Suka Boncengan Naik Motor Harus Patuhi 3 Syarat Ini

VIVA – Pemerintah Provinsi DKI resmi menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar, mulai Jumat 10 April 2020. Tujuannya, untuk mematikan rantai penyebaran virus corona di Ibu Kota.

Selama berlakunya PSBB, ada beberapa patokan yang harus dipatuhi oleh awak, baik yang tinggal maupun beraktivitas di Jakarta. Salah satunya, menghantam para pengguna sepeda motor.

Berbeda dengan mobil dengan jumlah penumpangnya harus setengah sejak kapasitas, sepeda motor pribadi masih diperbolehkan digunakan berboncengan. Tapi, tersedia syarat yang harus dipatuhi.

“Dalam bab 18 ayat 5 Peraturan Gubernur DKI nomor 33 tahun 2020, maka motor pribadi berboncengan tersebut masih diperbolehkan. Asalkan, pengguna maupun yang dibonceng itu menggunakan masker mengikuti sarung tangan, ” ujar Direktur Berserakan Lintas Polda Metro Jaya, Kombes Sambodo Purnomo Yogo, dikutip daripada Korlantas Polri , Minggu 12 April 2020.

Sambodo menegaskan, penggunaan kedok dan sarung tangan wajib dilakukan juga untuk mereka dengan dibonceng. Berdasarkan pantauan VIVA , masih banyak pemotor berboncengan namun tidak ada yang memakai sarung tangan.

Lihat Juga Data HK

Tengah itu, Kepala Dinas Perhubungan & Transportasi DKI Jakarta, Syafrin Liputo menjelaskan bahwa yang dibonceng harus memiliki domisili alamat tempat tinggal dengan sama dengan pengendara.

Hal ini mengacu pada Undang-undang Nomor 6 Tarikh 2018 tentang Kekarantinaan Kesehatan, Susunan PemerintahNomor 21 Tahun 2020 mengenai PSBB dalam Rangka Percepatan Pengerjaan Corona Virus Disease 2019, serta Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 9 Tahun 2020 tentang Pedoman PSBB.

“Untuk roda perut pribadi, selain untuk pengendara serupa bisa mengangkut penumpang. Tapi, dengan catatan bahwa penumpang tersebut satu alamat dengan pemilik kendaraan. Era ini, roda dua juga oleh karena itu moda utama para pekerja dalam Jakarta untuk melakukan kegiatan sehari-hari, ” ungkap Syafrin.